Minggu, 13 September 2009

Sabar-Syukur (Taskiyatun Nufs)


Bersyukur dengan cara bersabar. Dan bersabar dengan cara bersyukur. Terlalu abstrak jika sekedar hanya dibaca. Pun ketika mencoba memahami tanpa menengok sejarah dan segala pernak-pernik percontohannya. Tapi 2 kalimat padat itulah point yang aku dapat saat mengikuti i’tikaf perdana di Masjid Mekar Indah.


Di Masjid Mekar Indah. Selema 10 malam terakhir menggelas i’tikaf. Tiap malam, jam 21.00 sampai jam maksimal jam 23.00 ada kajian yang diisi oleh ustadz- ustadz terkenal. Jika di surabaya mungkin selevel Ustadz Rofi’ Munawar dkk. Jam 02.30 sampai jam 04.00nya Qyamullail dengan Ustadz Mahmud al hafidz. Setidaknya ada tempat, kesempatan saat ini untuk menumpahkan kerinduan malam-malam di Masjid Mujahidin surabaya seperti dulu. Jika di Mujahidin, yang merindukan adalah Qiyanullail 2 jam setengah. Dari jam 00.00 sampai 02.30 pagi. Bersama suara merdu Ustadz Muhalimin Al Hafidz. Terkadang bergantian 4 rakaat dengan ustadz Muhammad Soleh Dherem satu paket dengan do’a qunut yang panjangnya. Dalam menyentuk. Hingga membuat jamaa’ah ekspresif.


Oke. Kita balik ke tema Bro. Malam pertama i‘tikaf bertema taskiyatun nufs. Yang ngisi materi Ustadz Taufiqurrahman., Lc. Sebelum mengatakan 2 kalimat pamungkas di awal tulisan ini. Beliau memulai dengan mengulas tentang visi dan isi syaiton di bumi. Di Surah Al A’raf Ayat 17. “Kemudian pasti aku (Iblis and the gank) akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur”.


Ayat ini merupakan rangkain dari kisah di Qur’an bagaimana pembangkanagan Iblis yang tidak meu menyembah (sebagai tanda penghormatan) kepada Adam as. Sebuah kelompok, organisasi, perusahaan atau apapun namanya. Akan mudah hancur, tercerai berai dan tak bersisa jika tidak dilandasi Visi dan Misi yang jelas. Konkret. Objektif. Applicable. Pun begitulah organisasi yang dikoordinir oleh Iblis la’natullah. Secara gamblang dia (si Iblis) menjabarkan Misi dan Visinya di ayat ini. Mari kite simak Misinya : Akan menggoda kita dari depan (melukapakan kita terhadap kematian dan akherat), dari belakang (meraup dunia untuk keturunan tapi melupakan diri sendiri untuk akherat), samping kanan kiri. Sampeyan2 bisa cari sendiri tafsirnya. Kalau bingung, tinggal seacrh di Net. Semua celah, kesempatan, sisi, lini, segi, arah, sudut pandang kita terkepung oleh misi ini. Sebuah misi yang holistik. Komprehensif. Seakan tidak ada celah untuk menghindar.


Sebuah misi yang besar, PASTI terlahir dari Visi yang luar biasa pula. Kelanjutan kalimat dari ayat ini menjelaskan Visi, Tujuan akhir dari semua misi itu. Adalah : Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Ya. Menghindarkan kita dari bersyukur kepada Alloh. Bukan memasukkan kita ke neraka Jahanam. Di ayat selanjutnya (silakan dibaca sendiri) dipaparkan yang berhak memasukkan kita ke Neraka atau Syurga adalah Alloh semata. Nah, Iblis menciptakan penyebebnya. Penyebab kita dimasukkan Alloh ke Jahanam-Nya. Dan penyebab itu adalah menjadikan kita hamba yang kufur ni’mat.


So, jalan satu-satunya bagi kita adalah dengan cara banyak-banyak bersyukur. Nah bagaimana caranya? Yaitu dengan bersabar. Masih bingungkan? Sama. Gua juga.


Mari kita lanjut. Masih ingetkah kite kisah dalam hadist yang berkiseh : ”Suatu ketike, Rasululloh sholat malam sangat lama sekali (tentunya meminta ijin kepada neng Icha (baca Aisyah- Istilah yang dibuat Ustadznya). Hingga Aisyah mendapati kaki Rasulullah bengkak sebab lamanya beliau sholat. Kemudian Aisyah bertutur pada Rasulullah, yang dalam kalimat bebasnya. Ya Rasulullah bukankah engkau Rasull Alloh, Paling dicintai Alloh, telah terampuni semua dosa, telah PASTI masuk syurga. But, Why? Segitu – gitunye Ibadah?. Dengan ramah Rasulloh bertutur pada Istrinya yang masih belia ini. Bahwa beliau ingin menunjukkan rasa syukurnya atas semua hal yang disebutkan Aisyah tadi. Nah Lho. Khan. Wujud nyata bersyukur atas kenikatam yang diberikan Alloh adalah dengan bersyukur dengan cara bersabar dalam beribadah pun meski kaki hingga bengkak.


Untuk mendalaminya, saat sesi tanya jawab ada salah satu peserta yang bertanya. Pak Bondi namanya. Ketua team sukses Ustadz Syaibih dulu waktu nyaleg (kalah tapi). ”Uastadz, bagaimana dengan orang yang kaya raya, yang cara bersyukurnya dengan bersedah sebanyak-banyaknya saja. Kalau orang kaya bersedekah itu khan mudah. Lha iya. Dia kaya. Enak banget yak”- ini saya gubah sendiri, biar enak kayak logat bekasiannya-. Sang ustadz menuturkan, cara itu bisa. Tapi dia tidak sabar dalam bersyukur. Kurang sabar dalam bersyukur. Mencari yang paling mudah baginya. Bukankah sabar itu ada 3 macamnya, sabar dalam beribadah, sabar dalam meninggalkan maksiat, sabar saat tertimpa musibah. Nah, kallau orang kaya mah kudu sabar di 2 hal pertama ya. Seperti Rasulullah. Bersabar beribadah sampai kaki bengkak atas semua fasilitas di akherat yang telah dijanjikan Alloh. (mungkin ada yang menyeletuk, itu khan Rasull) Baiklah kita lihat Ustman bin Affan (orang terkaya dari era Rasululloh hingga eranya sendiri) akan kita dapati beliau ada;lah orang yang sangat cinta Qur’an. Sangat mencintai membaca Qur’an. Bahkan di bulan Ramadhan dikisahkan beliau bahkan dipastikan Khatam Qur’an sekali sholat malam. Belum Ibadah di siang harinya. (Mau ngomong apalagi??!!!). Keterangan tentang Ustman ini aku dapati pada kajian malam ke 22 oleh Ustad Hisbulloh Undu Al Hafidz.


Nah, untuk hal cara bersyukur dengan bersabar jelas sudah. Kalau masih gak jelas bisa ditanyakan ke Ustadznya sendiri. Hehe. Sekarang kita bahas cara bersabar itu dengan bersyukur. Usatadz Taufiqurrahman menjelaskannya dengan membuat sebuah perumpamaan.


Ada 2 anak kecil sedang belomba naik sepeda. Mereka kurang meliat kalau ada polisi tidur di depa mereka dan mereka tidak menyadarinya (kemarin baru dibikin kali, karena banyak ipin dan upin yang kayak gini ngebut-ngebutan bersepeda. Hehe). Jatuhlah mencium aspal keduanya. Berdarahlah kaki mereka. Tergoreslah tangan mereka. Nah paa malam harinya, keduanya baru aja dinasehati oleh guru TPA mereka agar selalu sabar ketika mendapat musibah. Mari kita liat ekspresi masih-masing anak dalam menerapkan ajaran sabar dari guru mereka.


Anak pertama berekspresi ”Wah, kakiku berdarah.., sabar.., sabar.., (saat dia liat tangannya juga tergores dan berdarah, bertambah terkejutlah dia). Hiakhh.. tanganku berdarah.., sabar.. ya.. sabar...”


Anak kedua juga mengalami luka yang sama. Dia berekspresi : ” Wah, kakiku berdarah.., untuk cumak berdarah doank. Masih bisa buat jalan kok (saat dia liat tangannya juga tergores dan berdarah, bertambah terkejutlah dia). Hiakhh.. tanganku berdarah juga.., tapi alhamdulillah Cuma tergores”


Lalu ada kakek2 yang lewat. Pertanyannya. Siapa yang akan dikatakan oleh sikakek anak yang Sabar. YUPZ. Pasti yang kedua. Bagaiman bisa? Karena anak yang kedua pandai bersyukur. Dan pasti anak kedualah yang akan lebih mudah bangkit dan menuju kerumah. Itulah bersabar dengan cara bersyukur.


Fiuhh.. Astaghfirulloh ya Alloh. Bgitu dalam penjelsaan ini bagiku. Bagiku yang sedang belajar menganalisa setiap do’a yang kupanjatkan. Menganalisa setiap yang kudapatklan dan kuinginkan. Jangan-jangan dibalik semua yang kita anggap sudah baik ini masih juga dimenangkan oleh muslihat dari sekian banyak permak dari misi Iblis and the gank.

Guys, bahkan kalimat pertama yang kita baca saat sholat mengajak kita untuk bersyukur.


Alhamdulillahhirrobil’alamiin.....

Arrohmanirohiim...

Maliki yaumiddiin...

Rabu, 26 Agustus 2009

Trik satu kali


Awalnya, ingin aku tulis Tips. Tapi, setelah ku telaah ulang lebih tepat ku tulis Trik. Moga bisa bermanfaat bagi yang punya niat kuat 1 kali khotam di bulan Ramadhan (sedikit info : Perbedaan niat dengan azzam. Jika niat itu sudah ada persiapan, tapi azzam baru sebatas keinginan yang kuat. Example : Jika kita baru ingin bersilaturahmi, itu baru dikatakan azzam. Tapi jika sudah mempersiapkan untuk bersilaturahmi meski sekecil apapu semisal beli oleh-oleh nah itu sudah masuk niat. Sehingga tidak heran jika rasulullah menyebut makan sahur itu merupakan rangkaian niat puasa ramadhan dan mewanti-wanti untuk mewujudkan niat sebelum sholat subuh. Nah disinilah bisanya dikampung-kampung kalo abis sholat tarawih biasanya melafadkan niat bareng-bareng. Sudah-sudah...)

Point penting yang ingin saya katakan dengan membahas niat ini adalah persiapan dengan kata lain perencanaan. Jadi yang berkeinginan mengkhotamkan 1 kali pada Ramadhan ini harus, once again harus merencanakan. Secara kasar, maka beban membaca Qur’an sehari sekitar satu Juz. Jika ada satu hari kurang dari 1 Juz, maka dia harus menganggap dirinya berhutang. Syarat ini dulu yang kudu dipenuhi. Jika dari sini anda sudah menyatakan, membaca semampunya saja. Mungkin anda perlu memikirkan ulang untuk melanjutkan membaca lanjutan Trik ini.

Dalam mushaf Ustmani, 1 Juz ada 10 lembar. Kalau Qur’an Indonesia (Maksud saya Qur’an yang tulisannya masih seperti jaman dulu. Ehm.. kayak gimana ya. Kayak yang biasa dibuat nderes itu lho. Pokonya yang itu). Nah ini adalah menganalisa beban. Setelah anda mengetahui beban tiap hari. Baru anda analisa waktu luang yang kemungkinan besar anda bisa gunakan untuk membaca Qur’an. Ini sangat tergantung dari kesibukan masing-masing. Bagi yang masih sekolah atau Mahasiawa, saya yakin mempunyai waktu yang lebih leluasa. Bahkan sangat memungkinkan untuk membaca setiap habis sholat fardu. Jika Habis sholat fardu 2 halaman saja. Maka dengan tidak perlu susah payah pasti sehari bisa dapat 1 Juz. Tapi kalaupun tidak maka 2 halam bisa dianggap sebagai utang untuk diselesaikan pada sehabis sholat fardu selanjutnya. For the contoh. Abis sholat maghrib kekenyangan. Ya udah, baca 4 halam di sholat isya’.

Kendala yang lebih rumit sebenarnya bagi para pekerja, apalagi wiraswasta kantoran. Berangkat pagi, siang istirahat bentar sambil melepas lelah, pulang sore dah capek. Mungkin bisa memakai Trik yang berikut. Cari waktu dimana anda bisa merasa nyaman membaca Qur’an. Semisal habis tarawai atau habis sholat subuh (yang ini agak berat bisanya, kecuali bagi yang terlath). Nah, mulai baca deh halaman demi halaman, dan ingat begitu anda merasa menikmati membaca. Terus baca.. baca hingga pasti tak terasa dah dapet satu juz atau pun kurang tak mengapa. Bisa dilanjut habis subuh. Waktu-waktu yang baiasanya enak membaca Qir’an Habis tarawih, habis sahur (bagi yang kebiasaan sahurnya 1 jaman sebelum subuh), habais subuh, habis mandi sore sambil nunggu waktu maghrib, atau bagi yang biasa buka besarnya habis tarawih habis sholat maghrib cucok sekali. Sekali lagi, saat mendapatkan waktu yang pas dan anda menikamti membaca qur’annya (biasanya merasa senang, bacanya lancar, pengen terus mbaca) lanjutkan hingga waktu habis atau anda yang menyerah capek. Jangan hiraukan godaan untuk hanya sekedar berhenti. Atau anda akan menyesal.

Nah, bagi yang mudah ’bosen’ saat tilawah. Ada juga Triknya nich. Persiapkan waktu habis sholat tarawih. Bikin/ beli 1 bungkus juz mangga campur sirsak (hehe.. tau juice kesukaan anda). Kalau ada camilan juga gak papa. Cari posisi duduk yang nyaman bagi anda. Mulailah membeca. Sehalaman dapet. Mak Sruuputt... Krezz..... Baca lagi.... dapet 2 halaman. Sruputtt Krezz... Terus.. ampek habis juicenya atau ampek tercapai terget baca dalam sehari.

Nah, bagi yang demen nonton Tvone or MetroTV (tidak disarankan bagi sinetron mapun movie). Wah eman ada debat nich, janji rakyat, save our nation, suara anda, wah kick andy asyik juga sambil baca qur’an pas iklan. Nah, gak terasa tuch. Kita mbacanya lama juga kalau dihitung. Sebab lama juga iklan TV untuk acara yang bagus. Bagi yag agak lancar bacaannya (sekitar 5 mrnit 1 lembar) pasti dapet satu Juz bisa. Tapi jangan dibuat kebiaasaan yang ini, buat latihan saja.

Tak lupa, bagi yang super sibuk. Hingga habis sholat tarawih masih ada juga kegiatan. Hingga capek. Langsung Lapzz.. Tidur. Jangan lupa setting alarm HP atau Jam. Dan sebisa mungkin bawa Qur’an saku. Maka anda bisa menikmati membacanya saat sholat malam (qiyamul lail= Tarawih). Jika setiap rakaat bisa dapet 1 lembar maka ente tinggal nambah dikit aja untuk dapet 1 Juz tiap harinya.

Eitz.. hampir lupa. Ada hari sabtu dan minggu. Hari baca Qur’an. Hari melunasi hutang baca Qur’an hari-hari yang sebelumnya. Tinggal dihitung punya utang berapa lembar dari senin ampek jum’at. Dilunasin dah di sabtu minggu. Pan bisa full habis sholat baca Qur’an tuch. Bisa juga buat nabung. Apalagi yang kerja diperantauan. Biasanya menjelang lebaran agaka sibuk persiapan mudik. Apalagi pas mudik naik bis. Lama. Bisa keteteran banyak itu. So, niat itu kudu dipersisapkan. Direncanakan sedetail meungkin. Semakin detail kita tahu apa yang harus kita lakukan. Semakin jelas pulalah tujuan akhir kita.

Maaf, Trik ini mungkin bagi yang masih bujang. Saya kurang tau bagi yang sudah berkeluarga. Satu hal yang saya ingat dulu. Bapak selalu mendukung saya untuk setiap habis tarawih ikut tadarus bareng di masjid. Rame-rame berebut baca Qur’an pake micropone di langgar.

Moga, ramadhan kali ini lebih baik. Setidaknya, bagi kita yang merasa jauh dan meniatkan semakin dekat. (Saat-saat merindukan sholat-sholat malam di masjid Mujahidin Perak Surabaya. Ya Alloh kapan bisa i’tikaf secara penuh. UntukMu)

...barusan saja. Sekian detik setelah selesai menulis ini. Tetangga kostku teriak motornya hilang. Didepan kost berderat 4 motor. Astrea grand, Mio, Vega R, Mega Pro. Yang ”dipilh’ si pencuri Vega R. Istri ke duaku diselamtkan Alloh.

Minggu, 16 Agustus 2009

7 Bahu


Bismillah. Kenyamanan itu subyektif, dan hanya pada saat tertentu. Seperti halnya enak itu juga relatif dan hanya sesaat. Enaknya makan itu saat kita makan dalam keadaan lapar. Ketika sudah kenyang tapi dipaksakan makan, maka tidak enak lagi. Dan ingat, hanya beberapa saat saja rasa enak itu terasa, sebelum rasa kenyang datang. Enaknya tidur itu, akan terasa nikmat saat tubuh kita benar-benar lelah, kantuk yang sangat. Apalagi sebelum tidur mandi dulu, makan. Maka dijamin tidur kita langsung dalam. Lelap. Nikmat.


Per 20 Agustus 2009. Genap 1 tahun bekerja di Cikarang, Bekasi. Tepatnya 1 tahun 2 bulan bila ditambah dengan 2 bulan PKL. Masih saja belum bisa aku merasakan ’penuh’ setiap waktunya. Namun, jangka waktu 1 tahun bukanlah waktu singkat untukku hingga mampu bertahan. Tegar. Menegarkan hati. Menyamankan diri. Mencari saat dimana aku merasa aku adanya. Merasa indah untukku. Seperti pelangi, meski sesaat, tapi indah. Aku mencoba berfikir keras, merenungkan kembali. Apa saja yang bsa membuatku merasa nyaman hingga mampu bertahan. Apa saja pelangi bagiku.


Pertama, lantunan suara merdu dan untain halus, sejuk, dalam, meresap ke dasar palung hati terdalam. Kata-kata yang beliau sebenarnya biasa, sederhana. Sesedarhana penampilan dan kehidupan beliau. Materi yang belia sampaikan adalah materi yang biasa, sederhana. Jauh dari materi-materi seperti para trainer-trainer yang sohor. Tapi entah kenapa, jauh lebih terasa daripada sekian banyak materi dari trainer-trainer yang pernah aku ikuti. Bahkan tidak jarang, aku sering menahan untuk tidak cengeng saat mendengarkan nasehat-nasehat beliau. Malu lagi, kao keliatan udah gede nangis. Yang senantiasa aku rindukan setiap pekannya. Ustadz Syaibih. Guru yang bersahaja.


Kedua, kesetiaan ketiga ”istri-istriku” menemani setiap sepiku. Menemaniku setiap perjalanku. Sarana canda dan kata dalam penat dan lelahku. Mengabadikan setiap moment waktu yang telah lalu, dan sepanjang waktuku.


Ketiga, Thoyib. Sohib yang mengajari arti membeli untuk sebuah arti. Dialah pencetus untukku mendapatkan ”istri’ ketigaku. ”Wes beli aja, tar kalo kurang aku tambahi. Jika kau menyukainya. Tak perlu berfikir tentang harga”. Dia mengajari dua jawaban kalau diajak makan, yaitu ”Ya” atau ”Oke”. Dia yang selalu tahu dimana tempat makan yang enak. Dan banyak. Dia yang budget terbesarnya untuk makan. Ketika kutanya mengapa, ”Udah 25 tahun menahan pengen makan enak gak kesampaian”. Tapi itulah Thoyib, apa adanya. Masih saja kurus seperti dulu kala SMA. Dan tetap garang dengan keinginan dan cita-cita.


Keempat, Ada Hernadi di Bekasi, Ada Sur dan Budi di Tambun, Ada Pak Omen, Kamto, Kusnadi, Rom di Jakarta beserta Minggu pagi di walisongo. Ada bulek, Pak Nano, Gito, Pak Brewok di Bogor. Mereka adalah tempatku merasa sedaerah. Dan merasa sedarah.


Kelima, makan paling enak ketika makan ada temanya. Membagi kebahagian setiap suapnya. Menjadikan setiap suapnya terasa lebih bermakna.. Aku bahagia punya teman saat makan. Mbak Hen, Senduk, Pitanoname dan teman-teman yang lain. Bahagianya saat bercerita dan tertawa sambil menyantap setiap suapnya. Mungkin aku bisa lupa diwarung mana, kedai mana. Bahkan mungkin akan samar setiap wajah yang ikut makan. Tapi suasananya tak mungkin bisa terlupa.


Keenam, badminton. Meski sangat kaku pada awalnya. Dan sering meleset saat memukul kock. Aku tak peduli. Meski sampai sekarang belum begitu mahir. Aku tak peduli. Kesenangan yang ada disini adalah rasa kompetisinya. Teriakan disetiap membuat kesalahan sehingga gagal membuat point. Pun, gelegar kepuasan saat mencetak angka. Luar biasa rasanya. Tidak percaya? Cobalah. Dulu, aku mengeluarkan keringat hanya dengan joging sendiri di minggu pagi. Memang keluar keringat tapi kurang bersemangat. Tapi sejak 2 bulan lalu, ada badminton. Dan aku suka. Meski hanya pada malam sabtu terkadang ditambah minggu jika ada kawan main.


Ketujuh, belajar. Mempelajari sesuatu yang baru ada dua rasa. Ragu dan Bersemangat. Dua rasa itu bertolak belakang, namun menyenangkan. Yang terpenting adalah harus terlihat jelas tujuan akhir. Dan aku merasa banyak sekali bisa belajr disini. Tentang duniaku. Kefarmasian. Quality Assurance. QA Spc menurut definisiku. Subuah jabatan untuk melakukan pekerjaan Spv sampai Operator. Mengelola hingga melaksanakan. Mengetahui Rambu-rambu Regulasi hingga implementasi di lapangan. Luar biasa rasanya.


Aku ingin memiliki alasan yang lebih dari ini. Suatu saat nanti. Bahkan jika harus, disuatu tempat lain nanti. Akan aku jalani. (Saat kerinduan begitu melangit)

Sabtu, 08 Agustus 2009

Semakin Dekat


Berangkat dari Cikarang Jumat sore. Nyampek rumah jam 08.00 paginya (hari sabtu) jam 10.00 langsung ke Rumah Budhe. Jadi sie dokumentasi amatir resepsi pernikahan Mbak Nana. Sepupuku. Bubakan. Dengan segala rangkain yang dari bahasanya aku tak paham. Pecah telur, basuh kaki mempelai lelaki. dll. Fiuh.

Sorenya ke Rumah Wahyu (Sohib SMA). Pak polisi jadi manten. Dapet istri Bidan. He looks great. Absolutly. "Suwun ya An, dah dateng. Reza dateng resepsi tadi pagi. Ghozali gak bisa dateng, dia lagi sakit di surabaya. Tapi Ibunya dah dateng barusan" Terang Pak Polisi singkat. Kemudian segera beranjak ke pintu keluar bergabung dengan keluarganya menyambut dan menyalami para tamu yang datang dan pulang. Ramai sekali.

Pulang dari Wahyu, mampir dulu ke masjid perempatan penekan. Lha dalah yang jadi Imam Pak Sukri. Guru Agama SMPku dulu. Abis sholat sempat bertegur sapa. Si Koko yang malah masih diingat Pak Sukri. hehe..

Malemnya, Kembali lagi ke Rumah budhe, njadomi para tamu dan pasang muka ampek larut. Finaly, pulang kerumah. Ngantuk buanget. Mak less, langsung turu.

Pagi packaging, ready back to cikarang. Dan begitulah. Semua terlewati. Singkat. Dan aku baik-baik saja.

Bagiku saat pulang itu.
"Buk, aku mbesok nek nikah gak perlu sing aneh-aneh. Gak perlu terlalu maksa. Sederhana wae. Gak peke siraman, pecah telur segala ya Buk. Diseneni Mbah Salim (Mbah Salim adalah kakekku, ayah Ibu. Seorang pegawai depag yang NU banget)"
"Buk, aku mbesok calonku bakal digolekne ustadzku. Engko nek cocok, trus ketemuan. Ketemu antar keluarga. dst pokoke koyok Pak Hidayat Nur Wahid"

Ibukku no problemo. But, I dont think so about my father. I will explain to him, later.

Semakin dekat.

Senin, 20 Juli 2009




Akhirnya. Setelah sekian lama berada di cikarang, aku bisa kerumah Bulek. Ke Cibinong, Bogor. Berangkat Sabtu (18 07 09) pulang dari lembur. Jam dua an siang temen-temen dah ngajak pulang. Wah ikut…. Kebetulan Andri Sutarman (Superman biasa aku panggil), Analis Mikro yang rumahnya Bogor pulang kampong. Jadi bisa berangkat bareng ke Bogornya. Kalo mau langsung ke Bogor dari Cikarang naik Bis AgraMas Warna Merah. Tapi hati-hati ada 2 jurusan, satu ke Tangerang satunya ke Bogor. Salah Jurusan bisa berabe jika buta Jabodetabek. Bisa muter-muter. Lah ini pas berangkat dah salah pilih Bis. Aduh… Akhire harus turun di Jati bening dulu, transit nyari yang ke Terminal Kampung rambutan, trus ganti bis lagi yang ke Bogor. Capek dech.

Nyampek juga di Barangsiang (terminal Bogor, Kenapa berenag harus siang hari ya?). Nyari mushola buat Asharan dulu. Abis itu Su’Tarman’ nganter aku ke halte tempat metromini menuju Cibinong. Dia nungguin aku ampek dapet. Kata Paklek naik yang jurusan Bogor Depok atau Bogor Rambutan. Turun di Pasar Cibinong Ramayana. Gak lama nunggu dateng juga Bogor Depok. Yupz.. aku melompat ke dalam bus sambil menyapa Su’tarman’ yang tetap di halte menunggu angkutan ke daerahnya. Katanya sich bertolak belakang dengan arahku. Ah.. aku juga gak tau pasti. Setengah jaman perjalanan menyusuri jalan-jalan di Bogor yang dah mulai gelap. Kok belum nyampek juga ya. Kata Su’tarman’ kalo dah lewat jembatan layang berarti dah kelewat. Padahal tadi, aku dah pesen ke kernet turun di pasar Cibinong. Sesekali aku tanya penumpang sampingku jarak Cibinong. Katanya masih agak jauh.

“Ramayana” terlihat jelas di samping kanan jalan. Pasti ini, aku tanya kernetnya. “Ramayana.. ramayana... Cibinong” teriak kernet. Langsung aja aku turun. Sms ke paklik. “Aku dah di depan Ramayana, sebrang jalan”. “Okey” Bales Paklik singkat. Ehm... bentar-bentar, hampir delapan tahun aku gak ketemu Paklik. Lebih malah mungkin. Wajahnya aja aku hampir lupa, kecuali suaranya yang khas. Takkan kulupa. Dan benar saja, yang nemput aku si Jeffry. Sepupuku. Baru lulus Sekolah menengah. Bersama adeknya, “Siapa namanya nich?” sapaku sambil naik ke motor. “Yona” Jawabnya termalu-malu. Aku baru nyadar. Tak pernah bertemu sekalipun. Pun sejak masih bayi. Dan sekarang Umurnya sudah 7 tahunan. Terlalu lama untuk sebuah pertemuan.
10 menit naik motor, nyampek juga di Rumah Paklik. Dan benar saja. Paklik pangkling ma aku. ”Coba mau sing mapak Paklikmu An, mesti bingung. Lha wong tak tanya inget wajahe Aan Ora. Paklikmu lali ngomonge. Mulane takkon Jeffry sing njemput” jelas Bulik padaku. Masih dengan logat Ponorogo campur Indonesia.

Bulek adalah adik kandung dari Ibuk. Sebab Ibuk anak tertua dari Almarhun Mbah Salim. Adik Ibuk ada 7. Mbah Salim punya 2 Istri. Masing-masing punya 8 anak. Jadi total 16 anaknya. Istri pertamanya di Madura, sebab Mbah Salim madura asli. Istri kedua di Ponorogo. Ibuknya Ibukku. Mamak biasa semua cucunya memanggil. Beliau juga sudah Wafat. Jadi, dari jalur Ibuk. Aku mempunyai banyak saudara. Apalagi kalau ke madura. Dari Bangkalan ampek Pamekasan ada saja. Dan semua rukun tentrem saling bantu. Guyup Rukun. Ibukku pernah tinggal di madura lama. Dia lumayan lancar berbahasa Madura. Tadi aku, Pram ma Koko. Blas ora iso.

Akhirnya semaleman ngobrol kesono kemari. Aku jadi tahu, kalo si Yona dah lancar baca Qur’an, Juz 11 kata Paklek. Malah selalu juara 1 terus dikelasnya. Si Jeffry sedang Latihan kerja di BLK. Disuruh kuliah masih ogah-ogahan. Pengen ngerasaain kerja dulu, baru kuliah. Karena dia lulusan STM, ambil Otomotif. Paklik bilang, si Jeffry sebenarnya Lolos lomba Otomotif untuk disaring ke kejuaraan se ASEAN untuk 30 besar. Tapi gagal masuk 10 besar. Tak ketinggalan Paklik menayakan satu-persatu personil keluargaku. Dan sering menyamakan aku dengan Om Samuru (Om kemat biasa) aku panggil. Adik kandung laki-laki Ibuk yang gemar. Sangat gemar bahkan untuk silaturakhim. Sejak masih bujang, pun sampai sudah punya 2 anak.

Banyak hal yang aku bisa pelajari tentang kehidupan dan menghidupi. Tentang keluarga dan mebangun keluarga. ”Kono le, omahe Paklik di foto. Engko nek bapakmu takok omahe paklik koyo opo ben ngerti” Kata paklik. Guys, inilah kebanggaan. Sebuah keluarga yang sudah mampu berdiri di kakinya. Menghidupi semua anggota keluarganya. Meneduhkan setiap orang yang Paklik lindungi. Ini bukan kesombongan. Tapi bukti nyata sebuah komitmen. Dan aku haru menfotonya. Dengan menahan nafas, mencari sudut terindah. Sebuah wujud nyata pengorbanan. Aku juga harus mampu. Dalam hati saat menahan nafas aku berkata.

Malam itu indah sekali. Ternyata hubungan darah dan keluarga mempercepat kehangatan komunikasi, apalagi dengan paklik. Dengan si kecil Yona juga cepat akrab. Meskipun baru pertama kali bertemu. Dia kuajari cara memfoto. Langsung bisa. Buat moto ini itu, tak jarang memfoto wajahnya sendiri. Capek dech.. kayak ABG aja gayanye.
Paginye, (weh.. ganti logat nich) jalan-jalan ke pemda. Melihat Pasar dadakan terpanjang, hampir 3 kilo panjangnya. Kata Paklek, pasar dadakan terpanjang di Jabodetabek. Dan sangat reme. Aku, Jeffry ma si kecil Yona jalan-jalan melihat-lihat. Kecapekkan beli maem trus pulang. Nyampek rumah, makan lagi... Yee... Yess.

Sorenya dah kurencanakan ke rumah Pak Nano. Teman seperjuangan di desa. Dah kayak saudara sendiri. Maka sekalian aku pamit. Pak Nano menjemput di depan Gang masuk, dekat kantor Pos Cibinong. Habis pamitan ma mengambil gambar beluk sekeluarga aku cabut dianter Jeffry ke depan Gang. Disana, disebrang jalan. Pak Nano melambai memanggilku. Kita bertemu dan berpelukan. Jenggotnya tambah panjang saja. Padahal dulu gak punya jenggot seingatku. Pak Nano(meskipun Cuma selisih 2 tahun diatasku aku memanggilnya Pak) sebab dia guruku dalam berkomunikasi. Dulu, aku sukar sekali ngobrol enak ma orang. Selalu kehabisan bahan pembicaraan. Garing poll. Gak ada cendaka, p;esetan, gurauan. Darinyalah aku belajar banyak. Dia humoris sekali dulu. Tapi sekarang dah gak begitu kelihatan humorisnya. Lebih berkharisma dengan jenggot berwarna kemerah-merahan. Hampirsama dengan warna rambutnya. Dulu pas dia kecil panggilanya adalah londo (belanda) karena rambutnya kemarahan.

20 menit dari Cibinong ke arah gunung putri. Melewati pintu Tol Jagorawi. Melewati Indocement. Pabrik Holcim yang Presdirnya tewas di Bom JW Marriot. Nyampek dech di daerah Jagak. Lokasi kerja, pun sekaligus dekat dengan kontrakkannya. Mampir Isya’an di Al Mujahirin. Dia tampak akrab dengan beberapa jamma’ah di Masjid itu. Ya iyalah. Hehe..

Akhirnya sampek juga di kontrakkane. Sederet kontrakkan yang kebanyakan berbahasa jawa. Gito juga ngontrak d sebelah. Gito adalah temen satu desa juga. Satu angkatan dengan Pram, adekku. Kontrakkannya tiga sekat. Sekat tengah buat tempat tidur. Disetiap ruangan dan peralatan yang ada ada tulisan bahasa arabnya. Sesuai dengan yang ditempel. Apakah itu pintu, Toilet, tempat gula, jamban, meja, almari. Wah, luar biasa. Pak Nano belajar bahasa arab. Di tempelan dindingnya juga terlihat jelas jadwal kajian. Baik itu nahwu shorof mapun bahasa arab. Untuk pemula sampai lanjut. Di mejanya juga ada setumpuk kitab. Mulai dari shahih Bukhari sampai manhaj aqidah ahlus sunnah wal jamaa’ah. Kerenn..

Yang aku salut lagi, dia masak sendiri. Jadi selama aku disana dia yang masak. Ada ricecooker, kompor, wajam. Makan malam kita dengan lalapam sawi lauk telor goreng. Tak lupa sambelnya juga ada. Meski aku gak tau pasti itu namanya sambel apa. Maklum, yang buat masih bujang. Paginya ada tambahan menu tempe goreng. Malam harinya kami banyak bercerita, bertukar berita dan kabar. Menanyakan satu sama lain. Yach.. tapi ujung-ujungnya tetep sama. Ketika ada pertanyaan ”Kapan?” semua menyummanggaaken. Hehe...

Ba’da dhuhur aku cabut balik ke Cikarang... Kota para ’budak’. Bus AgraMas dengan malas menuju ke Cikarang lagi. Membawa tubuhku menuju ke Kawasan Industri tempat aku menjadi ’budak’. Meskipun jiwa dan pikiranku masih ingin bersua dengan orang-orang yang berharga bagiku.